Tuesday, 14 October 2025

CERPEN

 

Luka yang Tak Termaafkan Tapi Tuhan Menggantinya dengan Cinta yang Sempurna

Luka yang Tak Termaafkan, Tapi Tuhan Menggantinya dengan Cinta yang Sempurna

Awal Pertemuan di Bangku SMA

Cinta itu datang diam-diam, tanpa rencana, tanpa aba-aba. Di masa putih abu-abu yang harusnya penuh tawa, aku justru belajar arti kehilangan.

Kami tidak pernah bertemu di kelas 10. Dia sakit usus buntu di semester pertama, lalu aku kecelakaan di semester kedua — tulang kakiku patah dan sejak itu langkahku tak lagi sempurna. Takdir baru mempertemukan kami di kelas 11.

Waktu itu pelajaran geografi bersama Pak Tirta. Aku, yang matanya minus tapi enggan memakai kacamata, memanggilnya dengan suara pelan, “Eh, eh!” Dia menoleh, kebingungan. “Panggil siapa?” tanyanya. Aku menjawab malu-malu, “Kamu. Tolong bacain tulisan di papan, aku nggak kelihatan.” Dia tertawa, lalu berkata, “Aku punya nama, lho.” “Oh maaf,” jawabku, “ya sudah, tolong bacain ya.”

Sejak hari itu, sesuatu tumbuh pelan-pelan — tanpa sadar, aku mulai menaruh hati pada sosok yang kutemui karena ketidaksengajaan.

Cinta yang Terasa Nyata

Hari-hari berjalan, kami semakin dekat. Aku yang dulu hanya punya dua sahabat, kini menjadi empat. Kami sering duduk sebangku, tertawa, bolos, dan saling berbagi cerita. Semuanya terasa begitu indah, begitu hangat.

Aku pikir, dia tulus. Aku pikir, semuanya sungguh-sungguh. Tapi ternyata, yang kupikir cinta… hanyalah cerita sementara.

Setelah kelulusan, semuanya perlahan memudar. Pesannya jarang, perhatiannya menipis, dan hatiku mulai merasakan tanda-tanda yang dulu kuabaikan. Sampai akhirnya, aku tahu — dia berselingkuh.

Yang paling menyakitkan bukan hanya pengkhianatannya, tapi karena semua itu disetujui oleh orangtuanya. Mereka bilang kasihan pada perempuan lain itu — seorang yatim piatu. Dan atas nama “kasihan”, mereka merobek hatiku.

Aku berdebat dengannya, menuntut kejujuran. Dia bilang aku kasar, padahal aku hanya jujur. Dia menuduhku berlebihan, padahal aku cuma ingin penjelasan. Dan akhirnya dia pergi — meninggalkanku seolah akulah penyebab segalanya.

Luka yang Tak Termaafkan

Aku mencoba memaafkan. Berkali-kali. Tapi tiap kali aku mengingat wajahnya, suaranya, kebohongannya… luka itu kembali berdarah.

Mungkin aku terdengar jahat, tapi aku belum bisa memaafkan. Aku masih dendam — bukan karena aku ingin membalas, tapi karena aku ingin dia tahu betapa dalam luka yang ditinggalkannya.

Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya menjadi aku: dijauhi tanpa alasan, ditinggalkan tanpa penjelasan, dihakimi karena luka yang bukan aku ciptakan.

Dua tahun aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Dua tahun pula aku mendengar kabar dari orang-orang — bahwa keluarga itu dulu berbicara di belakangku, menertawakan langkahku yang pincang, menyebutku cacat. Ya, aku cacat. Tapi tidak seburuk hati mereka.

Mereka menolak aku karena tubuhku tak sempurna, tapi mereka lupa: Tuhan menciptakan luka agar seseorang belajar menghargai sembuh.

Tuhan Menggantinya dengan Cinta yang Benar

Lalu, di saat aku berhenti berharap, seseorang datang. Bukan dengan janji manis, bukan dengan puisi indah, tapi dengan ketulusan yang nyata. Dia sederhana — bukan dari keluarga kaya, bukan pria muda penuh gaya. Tapi dia menyayangiku… tanpa syarat.

Dia tak melihat langkahku yang pincang, dia melihat hatiku yang masih berjuang. Dia tak menertawakan kekuranganku, justru menjadikannya alasan untuk melindungiku. Dia mencintaiku dengan sabar, dengan doa, dengan keikhlasan.

Dan di sanalah aku tahu: Tuhan tidak menunda kebahagiaan, Dia hanya menyiapkannya di waktu yang tepat.

Aku tak lagi ingin memaafkan masa lalu — bukan karena aku benci, tapi karena aku sudah selesai di sana. Aku tak butuh maaf untuk tenang, karena kini aku sudah bahagia dengan seseorang yang benar-benar tulus.

Penutup

Cinta pertama mengajariku luka. Cinta yang kedua menyembuhkan semuanya.

Aku tak lagi mencari penjelasan dari masa lalu, karena aku tahu, semua sudah digariskan agar aku bisa bertemu dia — pria sederhana yang memelukku bukan karena kasihan, tapi karena cinta.

Kini aku tersenyum, bukan karena sudah melupakan segalanya, tapi karena akhirnya aku menemukan arti sebenarnya dari kata tulus.


Tag: kisah cinta nyata, cerpen cinta sedih, pengkhianatan cinta, wanita kuat, kisah inspiratif, cinta karena Allah, move on dari mantan, kisah cinta penuh luka, cinta yang tulus

Thursday, 11 September 2025

 Portofolio 




Tentang Saya

    Saya seorang pustakawan berorientasi pengguna, berpengalaman mengelola layanan perpustakaan, membangun kenyamanan pengguna, serta mendukung kegiatan literasi di lingkungan sekolah dan komunitas.



       °PENGALAMAN KERJA°


Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda — Staff Perpustakaan (2022–2024)


•PROJECT •



©1. EVENT LOMBA©


©2. Video tipe tipe siswa perpustakaan©


©3.desain banner TATA TERTIB PERPUSTAKAAN©
Banner

Video

©4. Desain banner SIMBRY dan Video (PROJECT PERKENALAN UNTUK APLIKASI/DATABASE PERPUSTAKAAN SEKOLAH)©





SMKN 8 Medan — Staff Perpustakaan (2024–sekarang)



©5. Desain brosur perpustakaan SMKN 8 dengan cetak timbal balik menggunakan printer Epson©





©6. Video desain pemberitahuan buku baru karya guru©

Dinas Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Utara — Magang (2018) 

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara — Magang (2019)

©7. Ngerjain database di UIN©

©8. Magang di UIN©



•Pendidikan & Pelatihan•

S1 Ilmu Perpustakaan — Universitas Sumatera Utara (2014–2019)
IPK: 3.32/4.00




Workshop “Pengenalan DSpace” — FIB USU (31 Oktober 2017)



Keahlian•


°Corel draw

°Canva

°Videografi

°Microsoft Word, Excel,
 PowerPoint

°Manajemen Repositori (DSpace)


Organisasi & Kegiatan•

Ikatan Mahasiswa USU (IMPUS) — 2014–2019

Kelas Inspirasi Deli Serdang — Anggota / Fasilitator (2016)


Kontak
Email: adejuliasari@gmail.com

Friday, 4 March 2016

IRIS



Tidak ada kata yang harus diucapkan lagi mulut ku terasa terbungkam. Tak berdaya menerima kenyataan jika pertemuan begitu cepatnya  berakhir. Keegoisan yang menghancurkan cinta yang pernah dirajut sepasang kekasih. Rasa jenuh merasuki hati di salah satu pemilik hati. Menjadikan suatu perpecahkan.
Hari ini aku sebisa mungkin tersenyum didepan mereka yang memandangku yang terlihat tampak diwajahku yang  tidak bergairah.
“Putus?”Tanya reandra padaku.
“Ii..yaa..”jawabku dengan nada kusut sehabis orang yang jatuh dari ketinggian menahankan dan merasakan sakitnya jatuh dari ketinggian, tapi ini jauh lebih sakit ketika harus jatuh dari ketinggian.
“kamu yakin putus? Tiga tahun udah loh,padahal  kalian tampak cocok. Kenapa bisa?reandra bertanya seperti ingin mengintrogasi penjahat. Apa aku seperti penjahat?aku bukan penjahat !gerutuku dalam hati.
Aku hanya tersenyum untuk mewakilkan jawabanku lalu pergi meninggalkan reandra tanpa berbalik sedikitpun ketika ia memanggilku.
                                                                                ***

Tuesday, 28 April 2015

perpustakaan rumah keduaku



          Perpustakaan Rumah kedua ku

     Aku tak perduli apapun kata orang, aku tak perduli sinisnya pandangan orang,  aku tak perduli remehnya orang melihat keterbatasanku,....aku tak perduli,aku pasti bisa, aku yakin itu. Aku akan terus ketempat itu karena disanalah rumah kedua-ku.
     Fajar menyingsing menyapaku....sinarnya terangi tubuhku. Bahkan saat tirai dibuka oleh mama, aku tidak segera bangkit dari tidurku. ade bangun nak,....sudah pagi , kamu tidak pergi sekolah nak. Mama mencoba membangunkanku. akh...hmoahhh masih ngantuk ma....sebentar lagi,...begitu malasnya aku bangkit dari tempat tidurku itu. Bahkan tak segan mama mencubitku agar aku segera bangkit......karena tak tahan dengan rasa sakit itu aku pun bangkit. jadi anak jangan malas de,.....bangunlah nak lekas mandi ...nanti terlambat kesekolah. Begitulah setiap hari mama selalu membangunkanku.

Thursday, 6 February 2014

apa masalah dek???

hola... bingung mau nulis nyoret atau ngetik apaan.
mata padahal udah ngantuk nih. because sekarang waktu sudah 23.50 wib anak anak pusda pun udah pada geleper dilantai yang berlalas ambal selimut dan pelukkan guling mereka. mungkin jika kalian tanya  "APA MASALAH DEK???"
Text Select Onion Kun